MATAHARI DI RUMAHKU…….
Sebuah kota kecil yang berada di provinsi Jawa Timur yang sempat geger gara-gara kasus dukun cilik inilah rumahku berada. Ya….! Jombang, itulah nama kota tersebut. Sebuah rumah yang didalamnya terdapat keluarga yang terdiri dari 5 anggota termasuk aku. Kedua orang tuaku, 2 adikku yang semuanya cewek, dan aku adalah anak sulung laki-laki.
Cinta dalam suatu keluarga sebenarnya tidak dapat kuartikan jenis dan bentuknya seperti apa. Tetapi, kebersamaan dan kebahagiaan yang aku rasakan mungkin dapat mewakili definisi arti cinta itu sendiri. Dan juga mungkin pembaca bisa mendefinisikan arti cinta dalam keluarga bila pembaca dapat merasakan sendiri hal tersebut. Kebersamaan itu terasa bila kami sekeluarga pergi bersama-sama entah itu menghadiri acara keluarga ataupun untuk pergi rekreasi menghabiskan masa liburan. Kebahagiaan itu terasa apabila kami sekeluarga sedang berkumpul sambil nonton TV dan membicarakan masalah atau kejadian pada hari yang telah lewat dan kedua orang tuaku mengajak untuk membahasnya bersam-sama. Selain itu aku juga merasa bahagia bila aku dan adik-adikku mengadakan acara masak bersama. Kebetulan bila waktu libur aku suka iseng memasak yang ilmunya kudapat dari seorang teman dan 2 adikku itulah yang membantuku untuk mempersiapkan segala keperluanku. Setelah itu baru kami makan bersama dengan kedua orang tua kami, di situlah kebahagiaan itu terpancar. Terlihat jelas raut muka bahagia dari kedua orang tua kami dan adik-adikku.
Dimanakah Matahari Itu…..?
Bukan matahari dalam pengertian bagian dari tata surya yang mengelilingi bumi ini dan bukan pula pengertian manfaat dari matahari dalam proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan yang menyinari alam semesta ini.
Dalam keluargaku ini aku menganggap kedua orang tuaku itulah “matahari” sesungguhnya bagiku dan kedua adikku. Pada waktu pagi sebelum matahari terbit, kedua orang tuaku sudah membangunkan kami semua terlebih dengan suara ibuku yang panas di telinga bagaikan kena sengatan matahari di kulit, apalagi kalau sudah kena adikku yang bungsu. Adikku yang ini sekarang kelas 2 SMA tetapi untuk urusan bangun pagi paling susah padahal kalau sudah bangun susah untuk tidur lagi. Aneh bin ajaib memang adikku yang satu itu…. !
Sebelum kami bangun ibuku sudah menyiapkan sarapan untuk kami semua, itulah sedikit mengapa aku menyebut “matahari” dalam keluargaku karena dengan sarapan kami semua mendapatkan energi untuk melakukan aktivitas hari itu. Entah bagaimana kami dapat membalas rasa sayang dari kedua orang tuaku yang begitu tulus tanpa pamrih kepada anak-anaknya ini.
Adikku yang di bawahku sekarang kuliah di salah satu universitas negeri di Jember, sedangkan aku sendiri dinas di suatu daerah di luar Jawa dan sekarang lagi dalam masa cuti. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiap kali aku pulang ke Jombang, adikku yang di Jember itu selalu menyempatkan diri dan tak jarang mengorbankan kuliahnya untuk pulang ke Jombang. Padahal dahulu waktu aku masih SMA dan adikku itu masih SMP kami sering bertengkar seperti anjing dan kucing yang tak dapat disatukan. Hampir tiap hari kami bertengkar gara-gara masalah kecil atau sepele. Sekarang aku baru menyadari dan mungkin begitu pula yang dirasakan adikku setelah kami berjauhan dan jarang ketemu inilah yang membuat kami sadar bahwa sebenarnya kami saling menyayangi antara satu dengan yang lain.
Jika sedang sendirian kadang aku merenungi nasib kami, mengapa aku dan adikku ini harus berjauhan dari kedua orang tua kami. Aku berada di wilayah paling ujung bagian barat Indonesia sementara adikku ada di Jember. Apakah ini yang dinamakan garis hidup seseorang…? Aku berjanji dalam hatiku suatu hari aku harus bisa kembali lagi berkumpul dengan kedua orang tuaku. Aku ingin membahagiakan mereka dan juga adik-adikku. Aku dan adikku ingin membalas cahaya dan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuaku.
Tidak terasa waktu cutiku sudah hampir habis dan harus kembali ke tempat dinas besoknya, Akan tetapi, seperti biasa aku mengajak seluruh keluargaku makan malam di luar, paling tidak untuk merasakan kebersamaan dan kebahagiaan lagi sebagai kenangan sebelum berpisah lagi esok paginya. Mungkin inilah obat paling mujarab yang paling ampuh untuk menghilangkan stress selama bertugas jauh dari keluarga. Cahaya matahari dalam keluargaku, dari kedua orang tuaku dan keceriaan serta kebersamaan antara aku dan adik-adikku adalah sebuah cinta yang tak dapat didefinisikan oleh sebuah kata-kata bahkan oleh seorang pujangga cinta sekalipun.